
﷽
Balasan Itu Sesuai
Dengan Kadar Ujian
Dan Cobaan
7 Fawaid Hadits:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ
Diriwayatkan dari Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya cobaan. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai sebuah kaum niscaya Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Maka barangsiapa yang ridha (dengan ketetapan Allah, pent.), maka Allah akan ridha kepadanya, dan barangsiapa yang tidak ridha, maka Allahpun tidak akan ridha kepadanya.”
(HR. At-Tirmidzi, no. 2320 dan Ibnu Majah, no. 4021 dengan sanad hasan lighairihi).
Faedah Hadist:
Hadist ini memberikan faedah-faedah berharga, di antaranya;
1. Penjelasan bahwa pahala dan kenikmatan yang akan diterima seorang hamba kelak di akhirat itu sesuai dengan kadar besar kecilnya cobaan dan musibah yang dia terima di dunia dan dia bersabar atasnya. Semakin besar ujian yang dihadapi, maka semakin besar pula balasan yang akan diterima.
Para ahli hikmah pernah berkata,
إِنَّمَا الأَجرُ عَلَى قَدرِ الصَّبرِ
“Sesungguhnya pahala itu tergantung kepada kesabaran seseorang saat mendapatkan musibah”.
2. Hadist ini merupakan kabar gembira bagi orang beriman bahwa pada dasarnya cobaan dan ujian yang Allah berikan kepada hamba-Nya adalah bukti cinta-Nya, dan bukan kebencian kepada hamba tersebut. Maka selayaknya kita menghadapi ujian dan cobaan itu dengan cinta dan penuh keridhaan pula.
3. Kewajiban menerima segala ujian dan cobaan yang Allah Ta’ala berikan dengan kesabaran dan keridhaan (dianjurkan) dan larangan menghadapi ujian dengan menggerutu dan berkeluh kesah.
4. Penjelasan tentang adanya perbedaan manusia dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah Yang Mahakuasa. Ada yang menerimanya dengan penuh keridhaan dan ada pula yang tidak menerimanya dengan lapang dada bahkan berkeluh kesah ataupun berburuk sangka kepada Dzat yang memberikannya –wal ‘iyaadzubillah.
5. Motivasi bagi setiap insan untuk selalu bersabar atas musibah dan ujian di dunia ini, sampai mendapatkan keridhaan dari Allah Yang Mahapemurah.
6. Penengasan kaedah “Al-Jazaa-u Min Jinsil Amal” (Balasan itu sesuai dengan perbuatan). Artinya Allah ‘Azza wa Jalla akan memberikan keridhaan kepada hamba-Nya yang menerima ujian dan cobaan dengan keridhaan dan Allah akan memberikan kebencian kepada hamba-Nya yang menerima ujian dan cobaan dengan kebencian pula.
7. Penetapan adanya sifat “Ridha” dan “Benci” bagi Allah yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.
Wallahu Ta’ala A’lam.
📋 Referensi: Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Shalih al Utsaimin rahimahullah dan Kitab Bahjatun Naadziriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy.
🌐 Baca selengkapnya:
bimbinganislam.com/fawaid-hadist-32-balasan-itu-sesuai-dengan-kadar-ujian-dan-cobaan/
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَاد
Muslim Biker Indonesia (MBI) adalah wadah biker untuk belajar tentang keislaman, bagaimana menjadi muslim yang benar-benar hanya beribadah kepada Allah dan mengetahui cara beragama yang sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. MBI terbuka untuk semua biker, mulai dari motor dengan cc kecil sampai besar, mulai dari pecinta motoran sampai dengan anak komunitas dan club motor. Secara bentuk MBI bukanlah sebuah komunitas layaknya kelompok motor lain dan juga club motor, tapi wadahnya anak motor. MBI dibentuk pada Oktober 2017 atas kebutuhan para biker. Mereka berkumpul untuk menemukan cara mendekatkan diri kepada Allah dan mendapat ilmu tentang cara beribadah yang selayaknya dilakukan berdasarkan contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kegiat dilakukan melalui kegiatan touring sambil diskusi tentang keislaman. Bahkan slogan MBI dalam menyemangati setiap perjalanan adalah Indahnya Touring Nikmatnya Kajian. Join with us