KETIDAKLAYAKAN WADAH UNTUK MENERIMA HIDAYAH
****✒️

Yang dimaksud dengan wadah adalah hati manusia.

Terkadang ilmu telah dimiliki, al-Qur’ân telah dibacakan, namun dia tetap saja tidak beranjak dari jalan kesesatan.

• Ibnul Qayyim t menjelaskan,

“Tidak hadirnya hidayah itu bisa jadi karena faktor wadah, dan kadang karena tidak adanya alat hidayah atau karena Allâh tidak menghendaki. Dan hidayah yang sebenarnya tidak akan tercapai kecuali tatkala 3 hal ini berkumpulnya. Allâh Azza wa Jalla telah berfirman (tentang orang-orang munafik).

وَلَوْ عَلِمَ اللّٰهُ فِيْهِمْ خَيْرًا لَّاَسْمَعَهُمْۗ وَلَوْ اَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَّهُمْ مُّعْرِضُوْنَ 

“Kalau kiranya Allâh mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allâh menjadikan mereka mau mendengar (peringatan Allâh dalam al-Qur’an).  Dan jikalau Allâh menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu)”

[QS. Al-Anfâl/8:23]


Allâh Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan bahwa Ia memutuskan dari mereka bahan untuk mendapatkan petunjuk yaitu memperdengarkan kepada hati mereka dan memahamkannya apa yang bermanfaat baginya dikarenakan wadahnya tidak layak, di mana tidak ada kebaikan di dalamnya.

📌 Sesungguhnya seseorang itu akan tunduk kepada kebenaran, condong kepadanya, berusaha mencarinya, cinta kepadanya dan bersungguh-sungguh menggapainya, senang menerimanya, jika kebaikan itu ada dalam hatinya.

⚠️ Sementara orang-orang itu di dalam hatinya, tidak ada kebaikan sedikitpun. Sampainya petunjuk ke hati mereka seperti sampainya hujan yang turun dari langit dan jatuh di tanah yang keras di dataran tinggi yang tidak dapat menyimpan air dan tidak dapat menumbuhkan rumput. Ia tidak bisa menerima air dan tidak pula menumbuhkan tanaman.

Air pada hakekatnya adalah rahmat dan kehidupan, namun tempat tersebut tidak dapat menerimanya. Kemudian Allâh Subhanahu wa Ta’ala menegaskan makna ini untuk mereka dengan firmannya,

“Dan jikalau Allâh menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu)”.

Dia memberitahukan bahwa di samping tidak bisa menerimanya wadah dalam diri mereka sesungguhnya ada penyakit lain yaitu kibr, berpaling dan rusaknya niat, andaikata mereka memahami mereka tetap tidak akan tunduk dan mengikuti kebenaran dan tidak pula mengamalkannya”

[Ighâtsatul Lahfan min Mashâ-idisy Syaithân, 2/171]


📌 Pada hakekatnya wadah (hati) akan menjadi layak menerima hidayah dengan dua hal.

- Pertama,
Pemahaman yang baik;

- Kedua,
Niat yang baik juga. Apabila salah satu darinya hilang, maka hidayah akan menjumpai kesulitan untuk bersemayam di hatinya

[Syifâ‘ul ‘Alîl, Ibnul Qayyim, hlm. 97]

📎 almanhaj.or.id

🍃🍃

Dibagikan Oleh : Mutiara Risalah Islam

Join With Us

Muslim Biker Indonesia (MBI) adalah wadah biker untuk belajar tentang keislaman, bagaimana menjadi muslim yang benar-benar hanya beribadah kepada Allah dan mengetahui cara beragama yang sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. MBI terbuka untuk semua biker, mulai dari motor dengan cc kecil sampai besar, mulai dari pecinta motoran sampai dengan anak komunitas dan club motor. Secara bentuk MBI bukanlah sebuah komunitas layaknya kelompok motor lain dan juga club motor, tapi wadahnya anak motor. MBI dibentuk pada Oktober 2017 atas kebutuhan para biker. Mereka berkumpul untuk menemukan cara mendekatkan diri kepada Allah dan mendapat ilmu tentang cara beribadah yang selayaknya dilakukan berdasarkan contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kegiat dilakukan melalui kegiatan touring sambil diskusi tentang keislaman. Bahkan slogan MBI dalam menyemangati setiap perjalanan adalah Indahnya Touring Nikmatnya Kajian. Join with us

Born to Pray - Journey to Jannah

MUSLIM BIKER INDONESIA SURABAYA CHAPTER

Indahnya Touring Nikmatnya Kajian