
đź“– Ujian Saat Membaca Al-Qur'an
Al-Qur’an adalah kalamullah yang menjadi petunjuk dan cahaya bagi setiap hamba yang ingin meniti jalan lurus menuju Allah. Namun, setan tidak akan pernah tinggal diam melihat seorang hamba mendekat kepada Rabb-nya. Karenanya, saat seseorang mulai membuka mushaf dan membaca Al-Qur’an, ia akan diuji dengan berbagai gangguan dan godaan. Di antara bentuk ujian tersebut adalah kemalasan dan tidak menghayati isi bacaan, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah:
"Seorang manusia saat membaca Al-Qur’an biasanya diuji dengan dua hal:
Kemalasan
Tidak menghayati
Namun jika dia memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syetan maka Allah menjaga dari dua hal tersebut sehingga dia akan semangat membaca dan menghayati."
Kedua hal ini adalah penyakit ruhani yang sering kali menghalangi seseorang dari menikmati dan mengambil manfaat dari bacaan Al-Qur’an. Kemalasan adalah penyakit hati yang menjadikan seseorang enggan membuka mushaf, merasa berat untuk menghafal atau mempelajari tafsir, atau merasa waktu lebih baik dihabiskan untuk aktivitas duniawi. Sedangkan tidak menghayati adalah kondisi di mana seseorang membaca ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi hatinya lalai, pikirannya melayang, dan makna ayat tidak menyentuh hatinya.
Padahal, tujuan utama membaca Al-Qur’an bukan hanya sekadar melafalkan huruf-hurufnya, tetapi lebih dari itu: untuk merenungi isinya, mengambil pelajaran, dan mengamalkannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran."
(QS. Shad: 29)
Maka, bila seseorang merasa berat untuk membaca atau tidak bisa khusyuk dalam bacaan, hendaknya segera memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Allah telah memerintahkan hal ini secara khusus dalam Al-Qur’an:
"Apabila kamu membaca Al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk."
(QS. An-Nahl: 98)
Memulai bacaan dengan ta’awwudz bukanlah sekadar formalitas, melainkan bentuk kesadaran bahwa setan akan selalu berusaha merusak hubungan seorang hamba dengan Al-Qur’an. Ia akan membisikkan rasa malas, membuat hati gelisah, membuyarkan fokus, bahkan memunculkan perasaan bosan saat membaca.
Namun, ketika seorang hamba sadar akan gangguan ini dan berdoa serta memohon pertolongan Allah, maka Allah akan bukakan pintu-pintu taufik. Ia akan merasakan nikmat dalam setiap bacaan, hati pun menjadi tenang, dan makna ayat seolah berbicara langsung kepadanya. Inilah kelezatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang-orang yang membaca Al-Qur’an sekadar lewat saja tanpa perenungan.
Oleh karena itu, marilah kita lawan rasa malas dengan tekad yang kuat, dan hadirkan hati saat membaca firman Allah. Jadikan ta’awwudz sebagai tameng, dan niatkan membaca Al-Qur’an untuk mencari ridha Allah, bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Semoga Allah menjadikan kita sebagai ahli Al-Qur’an, yang membaca, memahami, dan mengamalkannya dengan penuh semangat dan ketulusan.
Wallahu A'lam Bishawab
Muslim Biker Indonesia (MBI) adalah wadah biker untuk belajar tentang keislaman, bagaimana menjadi muslim yang benar-benar hanya beribadah kepada Allah dan mengetahui cara beragama yang sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. MBI terbuka untuk semua biker, mulai dari motor dengan cc kecil sampai besar, mulai dari pecinta motoran sampai dengan anak komunitas dan club motor. Secara bentuk MBI bukanlah sebuah komunitas layaknya kelompok motor lain dan juga club motor, tapi wadahnya anak motor. MBI dibentuk pada Oktober 2017 atas kebutuhan para biker. Mereka berkumpul untuk menemukan cara mendekatkan diri kepada Allah dan mendapat ilmu tentang cara beribadah yang selayaknya dilakukan berdasarkan contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kegiat dilakukan melalui kegiatan touring sambil diskusi tentang keislaman. Bahkan slogan MBI dalam menyemangati setiap perjalanan adalah Indahnya Touring Nikmatnya Kajian. Join with us