
📖 Beginilah Seharusnya Kita Bersikap
Salah satu adab agung dalam pergaulan dan menuntut ilmu adalah bersikap bijak terhadap perbedaan pendapat yang dilandasi dalil. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:
"Seorang yang menyelisihimu karena dalil yang kuat menurutnya, bukan karena ngeyel, maka hendaknya engkau semakin bertambah cinta kepadanya."
📘 (Syarh Mumti' 4/159)
Ini adalah pelajaran besar tentang akhlak dalam berinteraksi sesama kaum muslimin, khususnya dalam ranah ilmu dan dakwah.
📌 Perbedaan Bukan Permusuhan
Dalam perjalanan menuntut ilmu dan mengamalkan agama, tidak jarang terjadi perbedaan pandangan. Terkadang seorang saudara kita berpendapat lain karena dia memahami dalil dengan cara yang berbeda, atau karena ijtihadnya dalam memahami nash syar'i.
Ketahuilah, selama perbedaan itu didasari dalil dan niat yang jujur, maka itu bukan sesuatu yang harus menyebabkan permusuhan atau kebencian. Bahkan, Syaikh Al-Utsaimin menasihati kita untuk menambah cinta kepada orang tersebut.
Mengapa? Karena dia menunjukkan sikap amanah terhadap ilmu — dia tidak mengikuti hawa nafsu, tetapi berpegang kepada apa yang dia yakini benar berdasarkan dalil.
📌 Cinta Karena Kebenaran
Mencintai seseorang karena Allah artinya mencintai dia karena ketaatannya, kejujurannya dalam mencari kebenaran, dan usahanya untuk menegakkan agama berdasarkan dalil, bukan karena fanatisme pribadi atau kelompok.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara..."
📖 (QS. Al-Hujurat: 10)
Persaudaraan ini harus dijaga, termasuk dalam urusan perbedaan ijtihad.
Ulama Salaf rahimahumullah juga memberikan contoh bagaimana mereka tetap saling menghormati meskipun berbeda pendapat. Imam Syafi'i berkata:
"Pendapatku benar namun mengandung kemungkinan salah, dan pendapat orang lain salah namun mengandung kemungkinan benar."
Sikap ini memperlihatkan keluasan hati dan rendahnya hawa nafsu.
📌 Hindari Fanatisme Buta
Sebaliknya, jika seseorang membenci orang yang berbeda dengannya hanya karena fanatisme atau kesombongan, maka dia telah jatuh dalam akhlak tercela.
Benci tanpa sebab yang benar hanya akan memutuskan ukhuwah, menghilangkan keberkahan ilmu, dan menimbulkan permusuhan yang tidak diridhai Allah.
Maka waspadalah terhadap sikap:
Taklid buta tanpa mau memahami dalil.
Fanatik kelompok sehingga menganggap kelompoknya pasti benar.
Merendahkan orang lain yang sebenarnya memiliki hujjah.
📌 Memupuk Cinta Sesama Penuntut Kebenaran
Mari belajar untuk bersikap lapang dada. Jika ada saudara kita yang menyelisihi kita karena dalil yang dia yakini — bukan karena keras kepala atau hawa nafsu — maka kita harus menghormatinya, mendoakannya, bahkan semakin menyayanginya.
Karena di balik perbedaan itu, Allah ingin menguji kelapangan dada kita, kejujuran kita dalam mencintai saudara kita karena Allah, bukan karena kepentingan pribadi.
Wallahu A'lam Bishawab
Muslim Biker Indonesia (MBI) adalah wadah biker untuk belajar tentang keislaman, bagaimana menjadi muslim yang benar-benar hanya beribadah kepada Allah dan mengetahui cara beragama yang sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. MBI terbuka untuk semua biker, mulai dari motor dengan cc kecil sampai besar, mulai dari pecinta motoran sampai dengan anak komunitas dan club motor. Secara bentuk MBI bukanlah sebuah komunitas layaknya kelompok motor lain dan juga club motor, tapi wadahnya anak motor. MBI dibentuk pada Oktober 2017 atas kebutuhan para biker. Mereka berkumpul untuk menemukan cara mendekatkan diri kepada Allah dan mendapat ilmu tentang cara beribadah yang selayaknya dilakukan berdasarkan contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kegiat dilakukan melalui kegiatan touring sambil diskusi tentang keislaman. Bahkan slogan MBI dalam menyemangati setiap perjalanan adalah Indahnya Touring Nikmatnya Kajian. Join with us