📖 Sudahkah Kita Menangisi Diri Kita?

Ketika usia masih muda dan tenaga masih kuat, sering kali kita lalai. Meremehkan waktu. Mengabaikan kesempatan. Padahal tidak ada jaminan bahwa kekuatan itu akan tetap bersama kita selamanya. Akan datang masa lemah, masa renta, masa di mana tubuh tak lagi sanggup menanggung beban ibadah seperti dulu.

Satu ketika, seorang tabi’in mulia, Abu Ishaq As Sabi’i rahimahullah, terlihat menangis. Lalu seseorang bertanya kepadanya, "Apa yang membuat Anda menangis?" Beliau menjawab:

"Telah hilang masa muda dan kuatku sehingga saya tidak mampu sholat sambil berdiri kecuali hanya membaca surat Al Baqarah dan Ali Imron!!"
📘 (Ats-Tsiqaat, Ibnu Hibban 8/76)

Subhanallah… betapa dalam makna tangisan ini.

Ia bukan menangis karena kehilangan dunia. Bukan karena sakit. Bukan karena kekurangan harta. Tapi ia menangis karena merasa kurang dalam ibadah, karena rasa cinta dan rindu kepada masa-masa kuat beribadah kepada Allah.

Mungkin di masa mudanya, ia bisa shalat sambil berdiri dan membaca Al Baqarah, Ali Imran, dan mungkin lebih dari itu. Tapi kini, tubuhnya telah lemah. Ia tak lagi mampu seperti dulu. Lalu ia menangis… bukan meratapi usia, tapi menyesali hilangnya kesempatan untuk bermunajat lebih lama di hadapan Rabb-nya.

💔 Sudahkah kita menangisi hal yang sama?
Sementara banyak dari kita masih muda, masih kuat, masih sehat. Tapi waktu yang berharga ini malah kita habiskan untuk kesia-siaan. Raga kita kuat untuk begadang di media sosial, tapi berat untuk bangun malam. Jari-jari kita lincah mengetik komentar dan status, tapi kaku ketika memegang mushaf. Kita hafal nama artis dan pemain bola, tapi Al Baqarah dan Ali Imran terasa asing di telinga.

Ketahuilah… hari ini kita kuat, tapi besok belum tentu. Apa yang kita remehkan sekarang, bisa menjadi sumber tangisan kita kelak.

Renungan dari kisah ini sangat menyentuh. Ia mengajak kita untuk memanfaatkan kekuatan dan waktu sebelum datang masa kelemahan. Seperti dalam sabda Nabi ï·º:
"Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum fakirmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu."
📘 (HR. Al-Hakim, dinilai shahih oleh Al Albani)

Abu Ishaq menangis karena ia menghargai ibadah. Ia mencintai momen-momen berdiri panjang dalam shalat. Ia merindukan detik-detik dekat dengan Rabb-nya. Sedangkan kita… sudahkah kita menyesali kurangnya ibadah yang kita lakukan hari ini?

📌 Jangan tunggu menua untuk menyesal. Gunakan masa mudamu untuk menabung amal. Bacalah Al-Qur’an. Berdirilah lama dalam shalat. Perbanyak dzikir. Bangun malam. Dekatlah dengan Allah… sebelum tiba masa ketika tubuh tak lagi sanggup, dan yang tersisa hanyalah air mata penyesalan.
Wallahu A'lam Bishawab

Join With Us

Muslim Biker Indonesia (MBI) adalah wadah biker untuk belajar tentang keislaman, bagaimana menjadi muslim yang benar-benar hanya beribadah kepada Allah dan mengetahui cara beragama yang sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. MBI terbuka untuk semua biker, mulai dari motor dengan cc kecil sampai besar, mulai dari pecinta motoran sampai dengan anak komunitas dan club motor. Secara bentuk MBI bukanlah sebuah komunitas layaknya kelompok motor lain dan juga club motor, tapi wadahnya anak motor. MBI dibentuk pada Oktober 2017 atas kebutuhan para biker. Mereka berkumpul untuk menemukan cara mendekatkan diri kepada Allah dan mendapat ilmu tentang cara beribadah yang selayaknya dilakukan berdasarkan contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kegiat dilakukan melalui kegiatan touring sambil diskusi tentang keislaman. Bahkan slogan MBI dalam menyemangati setiap perjalanan adalah Indahnya Touring Nikmatnya Kajian. Join with us

Born to Pray - Journey to Jannah

MUSLIM BIKER INDONESIA SURABAYA CHAPTER

Indahnya Touring Nikmatnya Kajian