B.A.H.A.G.I.A.

Sebagian orang mengira bahwa sumber kebahagiaan adalah berlimpahnya uang dan harta. Sebagian yang lain mengira kebahagiaan akan datang jika punya suami tampan atau istri jelita. Sebagian yang lain mengira bahwa bahagia itu kalau bisa jalan-jalan ke manapun dia suka, dst.

Kenapa demikian? Sebab, ketika punya banyak uang dan harta, hati merasa tenang karena bisa memenuhi apa saja kebutuhannya. Ketika punya pasangan yang tampan atau jelita, hati merasa senang karena bisa menikmati keindahannya. Ketika bisa berwisata ke mana saja, muncul rasa gembira karena bisa melihat-lihat tempat baru yang mempesona. Dia merasa mendapat hidup yang sempurna. Itu membuahkan rasa bahagia.

Namun, yang jarang disadari, menyandarkan rasa bahagia pada harta, pasangan tampan dan jelita, kemudahan wisata, atau yang semisalnya, itu terlalu fana. Ketika harta ludes, pasangan mulai berubah parasnya, atau ketika masa berwisata telah habis waktunya, rasa bahagia itu pun ikut terkikis dan perlahan sirna.

Yang muncul berikutnya adalah tuntutan. Dia harus bekerja keras untuk mengumpulkan harta, agar bisa menyemai lagi benih bahagia. Yang bosan dengan pasangannya mulai lirik sana sini berharap bisa mendapat lagi yang tampan atau jelita agar bahagia. Selama semua itu belum tercapai, dia merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Itu membuat dia tidak bahagia.

Maka, Allah tuntun kita untuk meletakkan kebahagiaan pada sesuatu yang lebih bermakna dan baka. Kata Allah, “Siapa saja yang beramal shalih, baik lelaki maupun perempuan, dan dia beriman, sungguh Kami akan benar-benar hidupkan dia dalam kehidupan yang baik, dan sungguh Kami akan benar-benar beri balasan mereka dengan yang lebih baik dari yang mereka amalkan.” (QS. An-Nahl: 97)

Siapapun memiliki peluang untuk beramal shalih dan beriman pada Allah Ta`ala. Tidak disyaratkan harus kaya. Sebab, jalan untuk beramal shalih sangat banyak dan beragam wujudnya. Allah buka kesempatan seluas-luasnya bagi setiap hamba untuk beramal shalih sesuai keadaannya.

Ini rumus pasti dari Allah Ta`ala. Sayang, sebagian kita cenderung menganggap rumus hidup seperti ini sebagai hal yang naif, normatif, dan beraroma dogma. Kita bahkan tak berhasrat untuk sekadar mencari tahu dan merenungkan hikmahnya. Kita lebih percaya pada keinginan hati dan yang tampak indah dalam pandangan mata.

Padahal, Allah yang menciptakan kita dan seluruh alam raya. Tentu Allah yang paling tahu apa yang terbaik bagi makhluk-Nya....
***
Bacaan:
Al-Wasail Al-Mufidah Lilhayati As-Sa`idah, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa`di, Dar Manar At-Tauhid Linnasyr, Cet. ke-1, 1441 H, hal. 7-15
Tafsir Al-Baghawi, Dar Ibn Hazm, Cet. ke-2, 1435 H, hal. 719

Join With Us

Muslim Biker Indonesia (MBI) adalah wadah biker untuk belajar tentang keislaman, bagaimana menjadi muslim yang benar-benar hanya beribadah kepada Allah dan mengetahui cara beragama yang sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. MBI terbuka untuk semua biker, mulai dari motor dengan cc kecil sampai besar, mulai dari pecinta motoran sampai dengan anak komunitas dan club motor. Secara bentuk MBI bukanlah sebuah komunitas layaknya kelompok motor lain dan juga club motor, tapi wadahnya anak motor. MBI dibentuk pada Oktober 2017 atas kebutuhan para biker. Mereka berkumpul untuk menemukan cara mendekatkan diri kepada Allah dan mendapat ilmu tentang cara beribadah yang selayaknya dilakukan berdasarkan contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kegiat dilakukan melalui kegiatan touring sambil diskusi tentang keislaman. Bahkan slogan MBI dalam menyemangati setiap perjalanan adalah Indahnya Touring Nikmatnya Kajian. Join with us

Born to Pray - Journey to Jannah

MUSLIM BIKER INDONESIA SURABAYA CHAPTER

Indahnya Touring Nikmatnya Kajian