
BIJAK DALAM MENCERITAKAN NIKMAT YANG DIDAPAT
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Menampakkan nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah adalah sebuah perbuatan yang dianjurkan oleh syari’at. Allah berfirman:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Adapun terhadap nikmat dari Rabbmu maka ceritakanlah. (QS. Adh-Dhuha: 11)
Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsirnya menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Nadhrah rahimahullah, dimana ia berkata:
كان المسلمون يرون أن من شكر النعم أن يحدث بها
Dahulu kaum muslimin (orang-orang shaleh terdahulu) memandang bahwa termasuk di antara bentuk mensyukuri nikmat adalah dengan menceritakannya. (Tafsir Ibnu Katsir QS. Adh-Dhuha: 11)
Akan tetapi, menampakkan serta menceritakan nikmat Allah yang telah diterima kepada orang lain, juga perlu pertimbangan dan melihat kepada kondisi orang yang akan diceritakan.
Apabila orang yang akan melihat dan mendengar tersebut diperkirakan merupakan orang yang memiliki sifat hasad maka tidak boleh menceritakan dan menampakkan nikmat tersebut kepadanya. Karena hal itu justru akan memudharatkan, baik bagi orang tersebut maupun bagi yang menceritakan.
Oleh sebab itulah dalam sebuah hadits, Rasulullah melarang menceritakan rencana yang disitu terdapat nikmat Allah kepada orang yang diperkirakan memiliki sifat hasad. Bahkan lebih dianjurkan lagi untuk menutupinya.
استعينوا على إنجاح الحوائج بالكتمان ، فإن كل ذي نعمةٍ محسود
Mintalah bantuan untuk mensukseskan hajatan dengan merahasiakannya. Karena sesungguhnya setiap orang yang mendapatkan nikmat memiliki Mahsud (orang yang hasad kepadanya). (HR. Thabrani dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ 943)
Maka kesimpulannya, bagi kita yang mendapatkan nikmat hendaknya bersikap bijak. Ada nikmat yang boleh kita tampakkan dan ceritakan kepada seorang, ada pula nikmat yang sebaiknya kita sembunyikan dari seorang yang lain. Karena tidak semua orang itu memiliki hati yang baik, bersih dari hasad. Wallahul muwaffiq
sumber: maribaraja.com/jangan-menceritakan-dan-menampakkan-nikmat-yang-diterima-kepada-semua-orang/
Muslim Biker Indonesia (MBI) adalah wadah biker untuk belajar tentang keislaman, bagaimana menjadi muslim yang benar-benar hanya beribadah kepada Allah dan mengetahui cara beragama yang sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. MBI terbuka untuk semua biker, mulai dari motor dengan cc kecil sampai besar, mulai dari pecinta motoran sampai dengan anak komunitas dan club motor. Secara bentuk MBI bukanlah sebuah komunitas layaknya kelompok motor lain dan juga club motor, tapi wadahnya anak motor. MBI dibentuk pada Oktober 2017 atas kebutuhan para biker. Mereka berkumpul untuk menemukan cara mendekatkan diri kepada Allah dan mendapat ilmu tentang cara beribadah yang selayaknya dilakukan berdasarkan contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kegiat dilakukan melalui kegiatan touring sambil diskusi tentang keislaman. Bahkan slogan MBI dalam menyemangati setiap perjalanan adalah Indahnya Touring Nikmatnya Kajian. Join with us