KEBAIKAN DAN KEBURUKAN SESEORANG

قال أبو الدرداء رضي الله عنه :

( لَوْلاَ ثَلاَثٌ صَلُحَ النَّاسُ : شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ،
وَإِعْجَابُ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ )

أحمد في الزهد (١٦٩)

Sahabat Nabi yang mulia, Abu Darda' rodhiyallohu anhu pernah berkata :

"Seandainya tidak ada tiga perkara, niscaya manusia akan berada dalam kebaikan, yaitu :

• Kekikiran/kebakhilan yang ditaati

• Hawa nafsu yang dituruti

• Setiap orang yang berpendapat, dia merasa bangga (terkagum-kagum) dengan pendapatnya sendiri !"

(Kitab Az-Zuhud (hal. 169), karya Al-Imam Ahmad bin Hambal rohimahulloh)

Catatan :

1. Ya benar. Seandainya saja tiga perkara tersebut di atas tidak ada pada diri seseorang, niscaya dia akan selalu dalam kebaikan.

Tetapi sayang, tiga perkara itulah yang justru banyak terdapat pada diri orang-orang, terutama yang hidup di saat ini .....

Dan justru dengan tiga perkara inilah, mereka akan menjadi binasa, terutama biasanya atau rusaknya agama mereka .......

2. Dalil yang menunjukkan hal itu adalah hadits yang shohih berikut ini :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ: ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ، وَثَلَاثٌ مُنَجِّيَاتٌ، وَثَلَاثٌ كَفَّارَاتٌ، وَثَلَاثٌ دَرَجَاتٌ، فَأَمَّا الْمُهْلِكَاتُ: فَشُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ، وَأَمَّا الْمُنَجِّيَاتُ: فَالْعَدْلُ فِي الرِّضَى وَالْغَضَبِ، وَالْقَصْدُ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَخَشْيَةُ اللَّهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، وَأَمَّا الْكَفَّارَاتُ: فَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، وَإِسْبَاغُ الْوُضُوْءِ فِي السَّبَرَاتِ، وَنَقْلُ الْأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ، وَأَمَّا الدَّرَجَاتُ: فَإِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ، وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

Dari Abdullah bin Umar rodhiyallohu ‘anhuma , dia berkata : Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Ada tiga perkara yang membinasakan, tiga perkara yang menyelamatkan, dan tiga kaffarat (penghapus dosa), dan tiga amalan peningkat derajat.

Adapun hal-hal yang membinasakan , yaitu :

(1) kekikiran yang ditaati.

(2) hawa nafsu yang diikuti.

(3) perasan ujub (bangga diri) seseorang terhadap dirinya sendiri.

Adapun hal-hal yang menyelamatkan , yaitu :

(1) sikap adil di kala ridho dan marah.

(2) sikap sederhana ketika dalam keadaan kekurangan dan berkecukupan.

(3) dan takut kepada Alloh ketika dalam keadaan sendirian dan ketika bersama orang lain.

Adapun hal-hal sebagai kaffaraat (amalan penghapus dosa) , yaitu :

(1) menunggu kehadiran sholat (berikutnya) setelah mengerjakan sholat.

(2) menyempurnakan wudhu dalam kondisi-kondisi yang tidak disukai (seperti, di musim yang sangat dingin dll)

(3) dan melangkahkan kaki menuju sholat-sholat berjama’ah (di masjid).

Adapun hal-hal yang akan meningkatkan derajat , yaitu :

(1) memberikan makan (terhadap orang yang membutuhkan).

(2) menebarkan salam.

(3) dan sholat malam (tahajjud) di kala manusia tengah tidur.”

(HR. Ath-Thobroni di dalam Al-Mu’jam Al-Ausath , no. 5754. Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh dalam Shohih Al-Jami’ no. 3039 dan 3045, dan Shohih At-Targhiib wa At-Tarhib no. 53)

3. Ya, perkara-perkara yang bisa menyebabkan kebinasaan/kerusakan bagi agama seseorang itu sangatlah banyak, diantaranya adalah seperti yang disebutkan di dalam hadits dan perkataan tersebut atas .....

Yang Pertama adalah : Kekikiran yang Ditaati !

Yakni, kekikiran atau kebakhilan yang ditaati oleh seseorang, sehingga mengakibatkan dirinya tidak menunaikan hak-hak yang harus dia tunaikan.

Ar-Raghib rohimahulloh mengatakan :

“Dikhususkannya dengan ungkapan “yang ditaati” di sini adalah untuk memberikan penjelasan, bahwa kekikiran dalam diri seseorang itu bukanlah termasuk perkara yang berhak untuk dicela, karena hal itu merupakan tabiat manusia, yakni dia kikir dengan hartanya.
Yang tercela itu adalah ketika seseorang tunduk kepada kekikirannya tersebut (yakni dengan terus memperturutkan keinginannya)." (lihat, Faidhul Qodiir, 3/405).

Contoh kekikiran yang ditaati itu adalah : misalnya, seorang suami bersikap kikir atau bakhil terhadap istri dan anak-anaknya , di mana dia tidak memberikan hak-hak istri dan anak-anaknya berupa nafkah yang cukup, padahal dia mampu untuk melakukannya.

Seperti juga misalnya, seorang diberikan oleh Allah harta yang melimpah, lalu dia enggan menunaikan hak-hak orang-orang fakir miskin berupa zakat dan sedekah. Perbuatan seperti ini merupakah perbuatan yang buruk.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan buruknya sifat ini dalam sabda beliau :

شَرُّ مَا فِى الرَّجُلِ شُحٌّ هَالِعٌ وَجُبْنٌ خَالِعٌ

“Seburuk-buruk sifat yang ada pada seseorang adalah sifat kikir yang sangat kikir , dan sifat pengecut yang sangat pengecut.” ( Shahih Ibnu Hibban, no. 3250)

Perbuatan buruk semacam ini akan membinasakan pelakunya. Sebagaimana tercermin dalam firman Allah ta'ala :

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka . Apa saja (harta) yang mereka kikirkan itu, akan dikalungkan (di lehernya) pada hari Kiamat…” (QS Ali Imron : 180)

Dalam hadis, dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu , dia berkata, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيْبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ يَعْنِي بِشِدْقَيْهِ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ ثُمَّ تَلَا {لَا يَحْسِبَنَّ الَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ} الْآيَةَ .

“Barangsiapa yang Alloh berikan kepadanya harta, lalu dia tidak menunaikan zakatnya, niscaya hartanya tersebut kelak pada hari Kiamat akan diserupakan dengan ular jantan yang rambutnya rontok karena banyak terdapat racun dan bertaring. Ular tersebut dikalungkan di lehernya pada hari Kiamat, kemudian ular tersebut memegang dengan kedua sudut mulutnya, seraya berkata : "aku adalah hartamu, aku adalah simpananmu."

Kemudian beliau membaca (ayat, yang artinya) : "Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil menyangka ..." (HR. Al-Bukhori )

Oleh kerena itu, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam telah mewanti-wanti umatnya dari hal buruk yang membinasakan pelakunya ini, sebagaimana dalam hadits :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ خَطَبَ رَسُوْلُ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَقَالَ « إِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالشُّحِّ أَمَرَهُمْ بِالْبُخْلِ فَبَخَلُوْا وَأَمَرَهُمْ بِالْقَطِيْعَةِ فَقَطَعُوْا وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُوْرِ فَفَجَرُوْا »

Dari Abdullah bin ‘Amr rodhiyallohu anhuma, dia berkata, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah, seraya bersabda :

“Jauhilah oleh kalian kekikiran, karena yang telah membuat orang-orang sebelum kalian binasa adalah karena kekikiran. Kekikiran itu memerintahkan mereka untuk terus bersikap bakhil, maka mereka pun berlaku bakhil. Dan, kekikiran itu pun memerintahkan mereka untuk memutus hubungan shilaturrahim, maka mereka pun melakukan pemutusan hubungan dengan orang-orang yang memiliki hubungan rahim. Dan, kekikiran diri itu pun memerintahkan mereka untuk melakukan kefajiran (perbuatan dosa), maka merekapun melakukannya.” (HR. Abu Dawud , no. 1700)

Oleh karena itu, waspadailah sifat kekikiran ini dalam diri Anda, wahai saudaraku kaum Muslimin ....

Peliharalah/jagalah diri Anda dari hal tersebut, niscaya Anda akan beruntung, selamat dari kebinasaan, baik di dunia maupun di akhirat.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ
“Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung …” (QS. Al-Hasyr : 9)

Terus, bagaimana caranya agar kita bisa terjaga/terpelihara dari Kekikiran diri kita sendiri ?!

Salah satu caranya adalah dengan berdoa kepada Alloh, agar Alloh melindungi kita semua dari sifat yang buruk ini.

Sebagaimana hal ini dicontohkan oleh seorang Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, yang bernama Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu, seorang yang sangat kaya lagi dermawan, yang terpelihara dirinya dari kekikiran.

Al-Imam Muhammad bin Jarir ath-Thobariy rohimahulloh menyebutkan di dalam kitab tafsirnya, sebuah kisah berikut ini :

عَنْ أَبِي الْهِيَاجِ اَلْأسْدِي، قَالَ: كُنْتُ أَطُوْفُ بِالْبَيْتِ، فَرَأَيْتُ رَجُلًا يَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ قِنِي شُحَّ نَفْسِي، لَا يَزِيْدُ عَلَى ذَلِكَ، فَقُلْتُ لَهُ، فَقَالَ : إِنِّي إِذَا وُقِّيْتُ شُحَّ نَفْسِي لَمْ أُسْرِقُ، وَلَمْ أَزْنِ، وَلَمْ أَفْعَلْ شَيْئًا، وَإِذَا الرَّجُلُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ.

Dari Abul Hiyaj Al-Asdiy rohimahulloh, dia berkata :

“Aku pernah thowaf di Ka’bah. Aku melihat seorang laki-laki, dia berdoa : "Ya Alloh, peliharalah aku dari kekikiran diriku.” Dia tidak menambahkan doa yang lainnya.

Maka, aku pun katakan kepadanya (mengapa Anda melakukan hal itu) ?" Maka dia pun menjawab : ”Sungguh, apabila diriku terpelihara dari kekikiran diriku, niscaya aku tidak akan mencuri, tidak pula akan berzina, dan tidak pula bakal melakukan sesuatu (yang buruk)."

(Abu al-Hiyaj al-Asdiy berkata) : "Ternyata lelaki itu adalah Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu."

( Jami’ al-Bayan Fii Takwili al-Qur’an, 23/286)

Semoga Alloh ta'ala menjauhkan dan melindungi kita semua dari akhlak yang rendah seperti ini (yakni kikir/bakhil terhadap harta).

Yang Kedua : Hawa Nafsu yang diikuti

Sebagaimana halnya kekikiran merupakan hal yang buruk dan membinasakan, demikian pula halnya dengan “Hawa nafsu yang diikuti” , ini merupakan hal buruk dan akan mengantarkan pelakunya kepada kebinasaan.

Oleh karena itulah, Allah ‘Azza wa Jalla melarang tindakan mengikuti hawa nafsu ini, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya :

وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌۢ بِمَا نَسُوا۟ يَوْمَ ٱلْحِسَابِ

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu , karena akan menyesatkan kamu dari jalan Alloh. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Alloh akan mendapat azab yang berat, kerena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Shood : 26)

Bahkan, tindakan “mengikuti hawa nafsu” itu merupakan kesesatan yang sangat parah.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun ? ..” (QS. Al-Qosshosh : 50)

Mengikuti hawa nafsu, termasuk penyakit hati yang sangat berbahaya, karena dia akan menjadi penghalang untuk mendapatkan hidayah dari Alloh ta'ala.

Sebaliknya, orang yang mampu menahan hawa nafsunya dan tidak menurutinya, Alloh akan memberikan balasan surga baginya, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya :

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ، فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Robb-nya, dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naazi’aat : 40-41)

Semoga Alloh ta'ala juga melindungi dan menjaga kita dari akhlak buruk semacam ini .....

Yang Ketiga : Perasaan Ujub (merasa bangga diri) seseorang kepada diri sendiri.

Hal ini juga termasuk perkara yang membinasakan pelakunya, sebagaimana halnya kekikiran yang ditaati, dan hawa nafsu yang diikuti.

Maka, barangsiapa yang dirinya terhinggapi oleh penyakit ini, sungguh berarti musibah besar sedang menimpa dirinya.

Mengapa begitu ? Ya, karena Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam merasa sangat kuatir, umatnya terjangkiti penyakit seperti ini.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini :

عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : لَوْ لَمْ تَكُوْنُوْا تُذْنِبُوْنَ خَشِيْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ اَلْعُجْبَ اَلْعُجْبَ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Jika kalian tidak berdosa (yakni tidak melakukan dosa sama sekali), maka aku takut kalian ditimpa dengan perkara yang lebih besar darinya, (yaitu) ujub..., ....ujub !” (HR Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 7255)

Hal itu karena, pelaku kemaksiatan/dosa itu boleh jadi dia akan mengakui kekurangannya, sehingga masih bisa diharapkan dia akan bertaubat nantinya dari kemaksiatannya.

Sedangkan orang yang ujub , dia tertipu dengan amalannya, sehingga taubatnya jauh dari harapan (yakni, tidak mungkin dia akan pernah bertobat, karena merasa dirinya dalam sebaik-baik amalan, kecuali orang yang dirahmati oleh Alloh ta'ala).

Allah ta’ala berfirman :

وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Sedangkan mereka mengira telah berbuat yang sebaik-baiknya..” (Qs. Al-Kahfi : 104)

( Faidhul Qadiir Syarh Al-Jami’ Ash-Shoghir, 5/331)

Karena itulah, Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh pernah berkata :

“Tidak ada suatu perkara yang lebih merusak amalan, daripada perasaan ujub dan terlalu memandang jasa diri sendiri…” ( Al-Fawa’id , hal. 147)

Demikianlah penjelasan ringkas tentang tiga penyakit berbahaya ini, yang mana jika penyakit-penyakit seperti ini ada pada diri seseorang, hal itu akan bisa membinasakan dirinya sendiri .....

Nas-alulloha As-Salamah minal Fitan .....

Akhirnya, hanya kepada Alloh ta'ala sajalah kita memohon pertolongan dan perlindungan dari semua keburukan .....

Dan semoga Alloh ta'ala senantiasa memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua, agar selalu memiliki akhlak yang mulia, dan dijauhkan dari akhlak yang rendah dan hina .......

Nas-alulloha At-Taufiq wal Istiqomah ....

Surabaya , Kamis pagi yg sejuk, 5 Robi'ul Awal 1445 H / 21 September 2023 M

✍ Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby

Silahkan joint pada channel telegram kami :

t.me/fawaidabuabdirrahman

Atau, untuk materi dakwah BIMBINGAN MERAWAT JENASAH SESUAI SUNNAH , silahkan joint di telegram kami :

t.me/joinchat/AAAAAEuSTvJlbMh4YnPPvw

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.

Join With Us

Muslim Biker Indonesia (MBI) adalah wadah biker untuk belajar tentang keislaman, bagaimana menjadi muslim yang benar-benar hanya beribadah kepada Allah dan mengetahui cara beragama yang sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. MBI terbuka untuk semua biker, mulai dari motor dengan cc kecil sampai besar, mulai dari pecinta motoran sampai dengan anak komunitas dan club motor. Secara bentuk MBI bukanlah sebuah komunitas layaknya kelompok motor lain dan juga club motor, tapi wadahnya anak motor. MBI dibentuk pada Oktober 2017 atas kebutuhan para biker. Mereka berkumpul untuk menemukan cara mendekatkan diri kepada Allah dan mendapat ilmu tentang cara beribadah yang selayaknya dilakukan berdasarkan contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kegiat dilakukan melalui kegiatan touring sambil diskusi tentang keislaman. Bahkan slogan MBI dalam menyemangati setiap perjalanan adalah Indahnya Touring Nikmatnya Kajian. Join with us

Born to Pray - Journey to Jannah

MUSLIM BIKER INDONESIA SURABAYA CHAPTER

Indahnya Touring Nikmatnya Kajian