
**GUNUNG ITU TERSUSUN DARI BEBATUAN KECIL**
Ibnul Mu’taz rahimahullah berkata, **"Tinggalkanlah seluruh dosa, yang kecil dan yang besar, itulah takwa! Berbuatlah seperti orang yang berjalan di atas tanah yang penuh dengan duri sehingga dia benar-benar berhati-hati dengan penuh perhatian. Janganlah sekali-kali kamu meremehkan sebuah dosa kecil. Sungguh, gunung-gunung itu, tersusun dari bebatuan kecil."**
Kata-kata ini memberikan nasihat yang dalam mengenai pentingnya menjaga diri dari dosa, baik yang besar maupun yang kecil. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita merasa bahwa dosa-dosa kecil itu tidak berbahaya dan bisa diabaikan, karena dianggap sepele dan tidak seberat dosa besar. Namun, kata-kata Ibnul Mu’taz mengingatkan kita untuk tidak meremehkan dosa sekecil apapun, karena setiap dosa, baik yang besar atau kecil, membawa dampak yang signifikan terhadap hati kita dan hubungan kita dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Ibnul Mu’taz menggambarkan takwa dengan sangat jelas, yaitu dengan meninggalkan semua jenis dosa, baik yang besar maupun yang kecil. Takwa bukan hanya tentang menjauhi dosa-dosa besar seperti membunuh, berzina, atau mencuri, tetapi juga tentang menjaga diri dari dosa kecil yang sering kali diabaikan, seperti berbohong, menggunjing, atau meremehkan orang lain. Inilah esensi dari takwa yang sesungguhnya: menjaga hati, menjaga lisan, dan menjaga seluruh perbuatan kita agar selalu sesuai dengan petunjuk Allah.
Di sisi lain, beliau juga memberikan perumpamaan yang sangat mendalam tentang bagaimana seharusnya kita menjalani hidup ini. Beliau menyamakan kita dengan seseorang yang berjalan di atas tanah yang penuh dengan duri. Orang tersebut harus berhati-hati dengan setiap langkah yang diambilnya, agar tidak terpeleset atau tertusuk duri. Begitu juga kita dalam kehidupan ini. Setiap langkah yang kita ambil, setiap keputusan yang kita buat, seharusnya selalu didasari dengan kehati-hatian. Setiap dosa, walaupun tampaknya kecil, harus kita waspadai karena ia bisa menjadi duri yang menyakitkan di hati kita.
Ibnul Mu’taz mengingatkan kita bahwa jangan sekali-kali meremehkan dosa kecil. Dosa kecil, jika dibiarkan tanpa taubat, akan mengumpul dan semakin membesar. Seperti halnya gunung yang tersusun dari bebatuan kecil, dosa kecil pun, jika dibiarkan menumpuk, akan menjadi sesuatu yang besar dan menghancurkan. Oleh karena itu, kita harus selalu menjaga diri kita agar tidak terjatuh dalam perangkap dosa-dosa kecil yang bisa merusak hati dan amal kita.
Dosa kecil yang sering kita anggap ringan sebenarnya bisa membawa dampak yang sangat besar. Setiap kali kita terjatuh dalam dosa kecil, kita harus segera bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jangan pernah menunda-nunda taubat, karena kita tidak pernah tahu kapan ajal akan menjemput kita. Oleh karena itu, kesadaran akan pentingnya menjaga diri dari dosa kecil ini menjadi sangat krusial dalam kehidupan kita.
Dalam setiap langkah hidup kita, kita harus senantiasa berusaha untuk tidak terjatuh dalam dosa, meskipun sekecil apapun itu. Hal ini bukan berarti kita hidup dalam ketakutan yang berlebihan, tetapi lebih kepada kewaspadaan agar kita senantiasa menjaga kualitas iman dan takwa kita. Dengan demikian, kita dapat terus berusaha memperbaiki diri, menghindari kesalahan, dan menjaga hati serta amal perbuatan kita agar senantiasa dalam keridhaan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dengan mempraktikkan apa yang diajarkan oleh Ibnul Mu’taz ini, kita akan semakin sadar bahwa setiap dosa, meskipun kecil, memiliki potensi untuk menghalangi kita dari rahmat Allah. Oleh karena itu, marilah kita selalu berusaha menjaga diri dari dosa-dosa kecil dan selalu memperbaiki diri dengan taubat yang tulus. Inilah jalan menuju takwa yang sejati, yaitu meninggalkan segala dosa, baik yang kecil maupun yang besar, demi meraih keridhaan Allah dan keselamatan di akhirat kelak.
Wallahu A'lam Bishawab
Muslim Biker Indonesia (MBI) adalah wadah biker untuk belajar tentang keislaman, bagaimana menjadi muslim yang benar-benar hanya beribadah kepada Allah dan mengetahui cara beragama yang sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. MBI terbuka untuk semua biker, mulai dari motor dengan cc kecil sampai besar, mulai dari pecinta motoran sampai dengan anak komunitas dan club motor. Secara bentuk MBI bukanlah sebuah komunitas layaknya kelompok motor lain dan juga club motor, tapi wadahnya anak motor. MBI dibentuk pada Oktober 2017 atas kebutuhan para biker. Mereka berkumpul untuk menemukan cara mendekatkan diri kepada Allah dan mendapat ilmu tentang cara beribadah yang selayaknya dilakukan berdasarkan contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kegiat dilakukan melalui kegiatan touring sambil diskusi tentang keislaman. Bahkan slogan MBI dalam menyemangati setiap perjalanan adalah Indahnya Touring Nikmatnya Kajian. Join with us