
📎 Jangan Menunda Kebaikan
Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah berkata:
"Betapa sering pahala datang menghampirimu dan diapun menunggu depan pintu. Namun penjaga pintu bernama "nanti" dan "kelak" mengusirnya".
📘 (Al Fawaid hlm. 95)
Menunda kebaikan adalah salah satu jebakan terbesar yang sering menimpa manusia. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dengan indah menggambarkan bagaimana pahala datang menghampiri seseorang dan menunggu di depan pintu. Namun, justru penjaga pintu bernama "nanti" dan "kelak" mengusirnya, sehingga kesempatan itu hilang begitu saja.
Manusia sering berpikir bahwa masih ada hari esok untuk melakukan kebaikan. Ketika mendengar adzan, kita berkata, "Nanti shalat kalau sudah santai." Ketika melihat orang membutuhkan bantuan, kita berkata, "Besok saja kalau ada waktu." Ketika ingin membaca Al-Qur'an, kita berkata, "Nanti kalau tidak sibuk." Begitulah seterusnya, hingga tanpa disadari, waktu terus berlalu dan akhirnya kesempatan itu hilang.
Allah telah mengingatkan dalam Al-Qur'an:
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa."
(QS. Ali 'Imran: 133)
Perintah untuk bersegera menunjukkan bahwa kebaikan tidak boleh ditunda. Setiap kesempatan yang datang harus segera diambil, karena kita tidak tahu apakah besok kita masih hidup atau tidak.
Rasulullah ï·º juga bersabda:
"Bersegeralah dalam melakukan amal shalih, sebelum datang fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita. Di pagi hari seseorang beriman, namun di sore hari ia menjadi kafir, atau di sore hari ia beriman namun di pagi hari ia menjadi kafir. Dia menjual agamanya demi sedikit keuntungan dunia."
(HR. Muslim)
Dari hadits ini, kita memahami bahwa menunda kebaikan bisa berbahaya. Bisa jadi hari ini kita masih semangat dalam kebaikan, namun jika kita terus menundanya, hati bisa menjadi keras dan akhirnya kita kehilangan kesempatan untuk melakukannya.
Orang-orang shalih terdahulu sangat memahami pentingnya tidak menunda kebaikan. Mereka segera shalat begitu mendengar adzan, segera bersedekah ketika memiliki rezeki, segera beristighfar ketika melakukan kesalahan, dan segera berdakwah ketika memiliki ilmu. Mereka tidak memberi ruang bagi "nanti" dan "kelak" dalam urusan akhirat.
Maka dari itu, mari kita ubah kebiasaan menunda. Jika ada peluang untuk bersedekah, lakukan sekarang. Jika ada waktu untuk membaca Al-Qur'an, bacalah sekarang. Jika ada kesempatan untuk shalat tepat waktu, jangan tunda. Jangan biarkan "nanti" dan "kelak" menjadi penghalang antara kita dan pahala yang sudah menunggu di depan pintu.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk selalu bersegera dalam kebaikan dan menjauhkan kita dari sifat menunda yang bisa merugikan diri sendiri.
Wallahu A'lam Bishawab
Muslim Biker Indonesia (MBI) adalah wadah biker untuk belajar tentang keislaman, bagaimana menjadi muslim yang benar-benar hanya beribadah kepada Allah dan mengetahui cara beragama yang sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. MBI terbuka untuk semua biker, mulai dari motor dengan cc kecil sampai besar, mulai dari pecinta motoran sampai dengan anak komunitas dan club motor. Secara bentuk MBI bukanlah sebuah komunitas layaknya kelompok motor lain dan juga club motor, tapi wadahnya anak motor. MBI dibentuk pada Oktober 2017 atas kebutuhan para biker. Mereka berkumpul untuk menemukan cara mendekatkan diri kepada Allah dan mendapat ilmu tentang cara beribadah yang selayaknya dilakukan berdasarkan contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kegiat dilakukan melalui kegiatan touring sambil diskusi tentang keislaman. Bahkan slogan MBI dalam menyemangati setiap perjalanan adalah Indahnya Touring Nikmatnya Kajian. Join with us