b860a09b1ce5a562206ba98d4d70abc1 DIANTARA CIRI-CIRI ORANG YANG PALING JAUH DARI AGAMA ISLAM Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rohimahulloh pernah berkata :
تجد أبعد الناس عن الإيمان والإسلام هم الذين اغتروا بمظاهر الكفار وتشبهوا بهم.
“Engkau akan menjumpai bahwa orang yang paling jauh dari Iman dan Islam itu adalah orang-orang yang tertipu dengan penampilan orang-orang kafir, dan suka menyerupai mereka.” 📚
Syarh Iqtidho’ Shirothil Mustaqim , hal. 218.
Catatan : 1. Artinya, akan ada diantara umat Islam ini,
orang-orang yang suka membebek dan mengekor orang-orang kafir, dalam sebagian amal perbuatan mereka. Apakah itu akhlaknya, gaya penampilannya, cara berpakaiannya, bahkan pada sebagian ibadahnya, dan lain-lain.
Dan itulah orang-orang Islam, tetapi mereka sangat jauh dari tuntunan agama Islam itu sendiri.
2. Dan ketahuilah wahai saudaraku kaum Muslimin .....
Di dalam hadits-hadits yang shohih, banyak dijelaskan oleh Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam, bahwa umat Islam ini suatu saat akan suka
"membebek/mengekor" terhadap orang-orang kafir, dalam sebagian perilaku dan keyakinan mereka !
Diantara dalil yang menunjukkan hal itu, diantaranya adalah hadits dari
Abu Hurairah rodhiyallohu anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ
“Kiamat tidak akan terjadi, hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam : “Apakah mereka (umat Islam) itu akan mengikuti seperti Persia dan Romawi ?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka ?“ (HR.
Al-Bukhari no. 7319)
Kemudian, dalam hadits dari
Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rosululloh shllallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (lobang yang sempit di dalam tanah, milik hewan sejenis biawak), pasti kalian pun akan mengikutinya. Kami (para sahabat) berkata : “Wahai Rosulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani ?” Beliau menjawab : “Lantas siapa lagi kalau bukan mereka ?” (HR.
Muslim no. 2669).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh menjelaskan :
"Tidak diragukan lagi, bahwa umat Islam itu kelak akan ada yang mengikuti jejak Yahudi dan Nashrani dalam sebagian perkara !" (
Majmu’ Al Fatawa , 27/286)
Beliau juga menerangkan, bahwa dalam shalat ketika membaca surat Al-Fatihah, kita selalu meminta pada Allah agar diselamatkan dari
jalan orang yang dimurkai dan jalan orang-orang yang sesat , yaitu jalannya Yahudi dan Nashrani.
Dan sebagian umat Islam ada yang sudah terjerumus mengikuti jejak kedua golongan tersebut ! (
Majmu’ Al-Fatawa, 1/65)
Imam An-Nawawi rohimahulloh, ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan:
“Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziroo’ (hasta) serta lubang dhob (yakni lubang sempit milik hewan yang hidup di dalam tanah), adalah suatu permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah laku orang-orang Yahudi dan Nashrani. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan mereka, bukan dalam hal-hal kekafiran mereka yang diikuti. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau, karena apa yang beliau katakan telah terjadi pada saat-saat ini.” (
Syarh Shohih Muslim , 16/219)
Demikianlah, jadi perbuatan sebagian kaum muslimin yang selalu mengikuti tingkah laku orang-orang kafir, sudah banyak diberitakan oleh Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam di dalam hadits-hadits beliau yang shohih.
Hadits-hadits tersebut di atas,
meskipun lafadznya berupa berita (kabar), tetapi maknanya adalah berupa larangan, yakni larangan dari Tasyabbuh (meniru atau mengikuti) mereka ! 3. Ya, meskipun hal itu berupa kabar/berita, dan itu juga berarti suatu Sunnatulloh (takdir Alloh) yang pasti akan terjadi,
tetapi hal itu bukan berarti bahwa perbuatan tersebut adalah boleh. Sekali-kali tidak seperti itu, tetap TIDAK BOLEH ! Bahkan secara umum kita dilarang menyerupai mereka dalam hal yang menjadi kekhususan mereka. Penyerupaan ini dikenal dengan istilah
TASYABBUH !
Lebih-lebih, banyak sekali hadits lainnya yang sangat tegas melarang dari perbuatan Tasyabbuh tersebut !
Diantara dalil yang menunjukkan itu, adalah sebuah hadits dari
Ibnu ‘Umar rodhiyallohu anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum , maka dia adalah termasuk bagian dari mereka.” (HR.
Ahmad (2/50), dan
Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam
Iqtidho‘ (1/269) mengatakan, bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Syaikh Al-Albani rohimahulloh juga mengatakan bahwa hadits ini shohih, sebagaimana dalam
Irwa’ul Gholil no. 1269)
Dalil lainnya, hadits dari
‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا
“Bukan termasuk golongan kita, siapa saja orang yang menyerupai orang selain kita.” (HR.
AT-Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al-Albani rohimahulloh mengatakan, bahwa hadits ini hasan).
Dan masih banyak lagi dalil yang lainnya.
4. Mungkin ada yang bertanya, mengapa kita dilarang meniru-niru orang kafir secara lahiriyah ? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh menjelaskan :
أَنَّ الْمُشَابَهَةَ فِي الْأُمُورِ الظَّاهِرَةِ تُورِثُ تَنَاسُبًا وَتَشَابُهًا فِي الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَلِهَذَا نُهِينَا عَنْ مُشَابَهَةِ الْكُفَّارِ
“Sesunghuhnya keserupaan dalam perkara lahiriyah (secara fisik), bisa berpengaruh pada keserupaan dalam hal akhlak dan amalan. Oleh karena itu, kita dilarang tasyabbuh (meniru/menyerupai ) dengan orang-orang kafir.” (
Majmu’ Al-Fatawa , 22/154).
Dalam kitab
Majmu’ Al-Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh juga berkata :
فَإِذَا كَانَ هَذَا فِي التَّشَبُّهِ بِهِمْ وَإِنْ كَانَ مِنْ الْعَادَاتِ فَكَيْفَ التَّشَبُّهُ بِهِمْ فِيمَا هُوَ أَبْلَغُ مِنْ ذَلِكَ ؟!
“Jika dalam perkara adat (kebiasaan) saja, kita dilarang tasyabbuh dengan mereka, bagaimana lagi dalam perkara yang lebih dari itu ?!” (
Majmu’ Al-Fatawa, 25/332)
Demikianlah, intinya adalah :
• Perbuatan Tasyabbuh dengan orang-orang kafir itu adalah
dilarang dan haram hukumnya ! • Akan tetapi sangat disayangkan, banyak diantara kaum Muslimin yang justru melakukan perkara yang dilarang tersebut !
Dan hal itu akan menjadikan mereka sebagai orang-orang yang sangat jauh dan paling jauh dari tuntunan agamanya sendiri.
Kita memohon kepada Alloh ta'ala, agar senantiasa memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua, agar Istiqomah di atas tuntunan syari'at agama Islam yang mulia ini, sampai akhir hayat kita nanti.
Dan dijauhkan dari semua bentuk kesesatan dan penyimpangan dalam beragama. Aamiin ......
Nas-alulloha At-Taufiq wal Istiqomah .... Surabaya , Rabu pagi yg sejuk, 6 Shofar 1445 H / 23 Agustus 2023 M
✍ Akhukum fillah,
Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby Silahkan joint pada channel telegram kami :
Link Atau, untuk materi dakwah
BIMBINGAN MERAWAT JENASAH SESUAI SUNNAH , silahkan joint di telegram kami :
Link Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.