709ed71b13b0b00efd3b3a3e8188f7d8Link NIAT kajian 05 Oktober 2023
NIAT bukan sekedar ucapan lisan, "Saya berniat." Tapi, niat adalah dorongan hati yang merupakan ilham dari Allah. Niat ini kadang muncul dengan mudah tapi terkadang sulit. Orang yang hatinya dipenuhi dengan urusan akan mudah menghadirkan niat kebaikan dalam segala macam situasi. Hatinya telah condong pada pokok kebaikan. Maka, ia pun condong pada amalan-amalan cabangnya.
Sebaliknya, ketika hati telah dikuasai oleh dunia, menghadirkan niat akan terasa sulit baginya. Kewajiban- kewajiban akan dilaksanakan olehnya dengan susah payah.
Umar bin Khathab meriwayatkan dari Rasulullah bahwa "Sesungguhnya amalan-amalan itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (bernilai sebagaimana) yang ia niatkan." (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Imam Asy-Syafi'i berkata, "Hadis ini sepertiga ilmu."
Adapun maksud sabda beliau, "Sesungguhnya amalan amalan itu bergantung kepada niatnya," yaitu baiknya amal perbuatan yang sesuai dengan ketentuan sunah, bergantung pada baiknya niat. Ini sama seperti sabda beliau, "Sesungguhnya amalan-amalan itu bergantung pada penutup-penutup(nya).
Maksud, Dan setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang ia niatkan," yaitu pahala yang didapatkan seseorang dari amal perbuatannya bergantung pada niatnya dalam melaksanakan amal tersebut.
Maksud, "Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (bernilai sebagaimana) yang ia niatkan adalah setelah mengokohkan pondasi pertama, Nabi menyebutkan contoh amal perbuatan yang bentuknya sama tapi diniatkan berbeda.
Tetapi, niat baik tidak bisa mengubah hakekat kemaksiatan. Keumuman sabda, "Sesungguhnya amalan-amalan itu ber- gantung kepada niatnya," jangan sampai dipahami bahwa kemaksiatan bisa menjadi ketaatan dengan niat. Sabda ini khusus berkenaan dengan amal ketaatan dan amal mubah, bukan kemaksiatan.
Ketaatan bisa berubah menjadi kemaksiatan karena niat. Amal mubah bisa berubah menjadi kemaksiatan atau ketaatan juga berdasarkan niat. Tetapi, kemaksiatan sama sekali tidak bisa berubah menjadi ketaatan karena niat. Tetapi justru ketika niat menyertai kemaksiatan, semakin beratlah petaka dan dosanya.
Pada dasarnya, segala amal ketaatan bergantung pada keabsahan niat, begitu pula dengan pelipat-gandaan balasannya. Sahnya suatu amal adalah ketika diniatkan sebagai ibadah untuk Allah semata. Sehingga, jika diniatkan untuk riya', amal ibadah justru berbalik menjadi kemaksiatan.
Selain itu, pahala suatu amal bisa dilipat gandakan dengan banyaknya niat baik yang menyertai amal tersebut. Adapun amalan mubah, secara keseluruhan bisa mengandung satu niat baik atau lebih. Niat baik ini bisa mengubahnya menjadi amal baik bernilai tinggi dan dibalas dengan derajat tinggi.
Keutamaan Niat
Umar bin Khaththab berkata, "Amalan terbaik adalah melaksanakan apa yang Allah wajibkan, menjaga diri dari apa yang Allah haramkan, dan berniat dengan tulus untuk mendapatkan pahala) di sisi Allah."
"Pada kemaluan seseorang di antara kalian terdapat sedekah Mereka (para sahabat) berkata, Wahai Rasulullah. Seseorang di antara kami menuntaskan syahwatnya, apakah perbuatan itu memberikan pahala baginya? Beliau balik bertanya, Katakan kepadaku jika ia (menuntaskan syahwatnya) secara haram (berzina), bukankah ia berdosa? Seperti itu juga jika ia (menuntaskan syahwatnya) secara halal (perbuatan tersebut) menjadi pahala baginya."
An-Nawawi menjelaskan, hadis ini menunjukkan bahwa amalan-amalan mubah berubah menjadi ketaatan dengan niat yang benar. Berhubungan badan menjadi ibadah manakala diniatkan untuk menunaikan hak istri dan menggauli istri dengan cara yang baik seperti yang Allah perintahkan, atau ingin mendapatkan anak saleh, menjaga diri, menjaga istri, mencegah suami ataupun istri dari pandangan-pandangan dan pikiran haram, atau niat-niat baik lainnya. Berikutnya nanti akan disebutkan atsar dari Mu'adz bin Jabal, "Sungguh, aku mengharap pahala dari tidurku, seperti aku mengharap pahala dari jagaku.
Seorang salaf berkata, "Bisa jadi amalan kecil menjadi besar karena niat, dan bisa jadi amalan besar menjadi ke karena niat,"
Diriwayatkan dari Yahya bin Abu Katsir, "Pelajarilah niat, karena ia lebih sempurna dari amal."
Diriwayatkan secara shahih bahwa suatu ketika saat Umar berihram, ia mendengar seseorang berkata, "Ya Allah! Aku ingin melaksanakan haji dan umrah." Umar pun berkata kepadanya, "Patutkah kau memberitahukan hal itu kepada orang-orang? Bukankah Allah mengetahui apa yang ada di dalam dirimu?"
la berkata demikian karena niat merupakan kehendak hati dan tidak harus dilafalkan dalam semua amal ibadah.
Seorang salaf berkata, "Bisa jadi amalan kecil menjadi besar karena niat, dan bisa jadi amalan besar menjadi kecil karena niat."